JAKARTA - Transformasi industri pertambangan menuju praktik yang lebih ramah lingkungan terus menunjukkan perkembangan signifikan di Indonesia. Salah satu langkah konkret terlihat dari kolaborasi antara PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dengan PT Borneo Indobara (BIB) dalam memperluas penggunaan energi bersih.
Kerja sama ini menandai komitmen bersama dalam memperkuat penerapan energi baru terbarukan untuk mendukung praktik pertambangan hijau atau green mining. Selain itu, kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk menekan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas industri.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan perjanjian jual beli Renewable Energy Certificate atau REC. Dalam kesepakatan ini, BIB menambah pembelian REC dari PLN sebanyak 23.040 unit.
Jumlah tersebut setara dengan 40.000 megavolt ampere listrik berbasis Energi Baru Terbarukan. Langkah ini memperlihatkan keseriusan sektor pertambangan dalam mengadopsi energi hijau secara terukur dan terdokumentasi.
Dukungan PLN untuk Transisi Energi Industri Nasional
Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari dukungan PLN terhadap transisi energi industri nasional. Ia menegaskan bahwa PLN memiliki komitmen kuat dalam memperluas penggunaan listrik berbasis energi terbarukan.
“PLN berkomitmen penuh untuk mendukung daya saing industri nasional dengan mendorong penggunaan energi bersih yang ramah lingkungan melalui layanan listrik hijau 100 persen yang dipasok oleh pembangkit berbasis EBT," katanya. Pernyataan tersebut menegaskan posisi PLN sebagai penyedia solusi energi hijau bagi sektor industri.
Adi menjelaskan bahwa REC merupakan sertifikat digital yang mewakili atribut lingkungan dari satu megawatt hour listrik yang berasal dari sumber energi terbarukan. Sumber tersebut dapat berupa tenaga surya, air, maupun panas bumi.
Sertifikat ini menjadi bukti bahwa listrik yang digunakan pelanggan telah dilengkapi dengan kontribusi energi baru terbarukan. Meski secara teknis listrik yang dialirkan melalui jaringan PLN berasal dari bauran energi, REC memastikan adanya klaim penggunaan energi hijau yang sah.
Melalui mekanisme ini, pelanggan tetap terhubung ke jaringan umum PLN tanpa harus membangun pembangkit energi terbarukan sendiri. Namun, secara administratif dan lingkungan, mereka tetap tercatat sebagai pengguna energi bersih.
Dengan membeli REC, perusahaan tidak perlu membangun langsung infrastruktur EBT sendiri. Meski demikian, perusahaan tetap bisa mengklaim penggunaan listrik hijau untuk memenuhi target keberlanjutan dan pengurangan emisi.
Instrumen REC juga tercatat secara elektronik melalui sistem pelacakan resmi. Sistem ini memastikan transparansi serta keabsahan konsumsi energi terbarukan yang telah disertifikasi.
"Hal ini tidak hanya sekadar jual beli sertifikat, tetapi juga langkah nyata memperkuat daya saing industri Indonesia di tengah tuntutan global dekarbonisasi dan peningkatan praktik keberlanjutan," katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa REC memiliki nilai strategis dalam konteks persaingan global.
Tren Permintaan Energi Hijau Terus Meningkat
Adi mengungkapkan bahwa permintaan terhadap REC di Indonesia menunjukkan tren yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, penggunaan REC atau konsumsi energi hijau mencapai lebih dari 10,9 terawatt hour.
Angka tersebut meningkat lebih dari 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini mencerminkan semakin besarnya minat industri dalam memanfaatkan energi bersih sebagai bagian dari strategi bisnis berkelanjutan.
"Kenaikan minat ini juga mencerminkan meningkatnya kesadaran industri dalam memenuhi tuntutan pemangku kepentingan untuk meminimalkan jejak karbon," katanya. Hal ini menunjukkan bahwa aspek keberlanjutan kini menjadi pertimbangan penting dalam operasional industri.
Permintaan REC yang terus meningkat juga menjadi indikator bahwa sektor swasta semakin responsif terhadap isu perubahan iklim. Industri mulai menempatkan penggunaan energi bersih sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Langkah PT Borneo Indobara menambah pembelian 23.040 unit REC menjadi salah satu bukti nyata dari tren tersebut. Skala pembelian ini bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar di wilayah Kalimantan.
General Manager PLN UID Kalselteng Iwan Soelistijono menyambut positif keputusan BIB dalam memperluas penggunaan REC. Ia menegaskan bahwa penjualan 23.040 unit REC ini merupakan pencapaian terbesar di wilayah Kalimantan.
Pencapaian tersebut sekaligus memperkuat posisi Kalimantan sebagai salah satu wilayah dengan komitmen tinggi terhadap transisi energi. Kolaborasi antara PLN dan sektor industri dinilai menjadi kunci dalam mempercepat adopsi energi bersih.
Komitmen BIB terhadap Program Green Mining Realization
Chief Operating Officer BIB Raden Utoro mengapresiasi komitmen PLN yang mendukung penuh pelaksanaan program Green Mining Realization. Ia menilai kerja sama ini memiliki peran krusial dalam menjaga keberlanjutan operasional perusahaan.
"Kerja sama ini sangat krusial karena keandalan pasokan listrik menjadi kebutuhan mutlak, mengingat gangguan pasokan dapat menghentikan seluruh aktivitas operasional tambang," katanya. Pernyataan tersebut menekankan pentingnya pasokan listrik yang stabil dalam industri pertambangan.
Menurut Raden Utoro, keandalan pasokan listrik bersih menjadi kebutuhan penting bagi titik tambang BIB yang terus berkembang. Dukungan teknis serta infrastruktur ketenagalistrikan sangat dibutuhkan untuk menopang pertumbuhan tersebut.
Ia menyebut bahwa transmisi dan pembangunan gardu induk akan menjadi bagian dari penguatan sistem kelistrikan. Infrastruktur tersebut diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan daya puncak yang diperkirakan mencapai 200 hingga 240 MVA pada 2028.
Program elektrifikasi yang dijalankan BIB disebut sebagai yang pertama di Indonesia dalam skala besar untuk sektor pertambangan. Targetnya adalah mencapai 25 persen armada alat berat berbasis listrik pada 2026.
Angka tersebut akan meningkat menjadi 75 persen pada 2028. Selain itu, perusahaan juga membidik target nol emisi pada periode 2028 hingga 2029.
Langkah ini menunjukkan transformasi besar dalam pola operasional pertambangan yang selama ini identik dengan konsumsi energi fosil tinggi. Dengan elektrifikasi armada dan pembelian REC, BIB berupaya menurunkan emisi secara signifikan.
Kolaborasi antara PLN dan BIB tidak hanya berfokus pada sertifikat energi, tetapi juga pada dukungan sistem kelistrikan secara menyeluruh. Hal ini mencakup keandalan pasokan, kapasitas daya, serta penguatan jaringan transmisi.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menjawab tuntutan global terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan. Industri pertambangan kini dihadapkan pada standar lingkungan yang semakin ketat.
Melalui pembelian REC dan elektrifikasi armada, BIB berupaya menjaga daya saing di pasar internasional. Komitmen ini juga menjadi sinyal bahwa sektor pertambangan Indonesia siap beradaptasi dengan agenda dekarbonisasi global.
Di sisi lain, PLN memperkuat perannya sebagai penyedia solusi energi hijau yang terintegrasi. Penyediaan REC menjadi instrumen strategis dalam mendorong transformasi energi di berbagai sektor industri.
Kerja sama ini mencerminkan sinergi antara penyedia energi dan pelaku industri dalam mencapai target pengurangan emisi. Dengan pendekatan kolaboratif, transisi energi dapat berjalan lebih efektif dan terukur.
Langkah yang diambil PLN dan BIB diharapkan dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain di Indonesia. Transformasi menuju energi bersih tidak lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi kebutuhan nyata.
Ke depan, penggunaan REC diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan komitmen nasional terhadap pengurangan emisi. Sektor industri memegang peran penting dalam mewujudkan target tersebut.
Melalui sinergi ini, praktik green mining di Indonesia semakin mendapatkan fondasi yang kuat. Dukungan infrastruktur dan instrumen energi hijau menjadi kunci dalam menciptakan industri pertambangan yang lebih berkelanjutan.
Kolaborasi antara PLN UID Kalselteng dan PT Borneo Indobara menjadi tonggak penting dalam perjalanan transisi energi nasional. Dengan langkah konkret seperti ini, target dekarbonisasi industri bukan lagi sekadar rencana, melainkan proses yang sedang berjalan.